Bogor Kota Hujan, Tapi Curah Hujan Menurun? Mengungkap Fenomena Perubahan Iklim di Kota Sejuk Ini
Selama puluhan tahun, Bogor dikenal dengan julukan “Kota Hujan” karena intensitas curah hujannya yang tinggi hampir sepanjang tahun. Namun, data terbaru menunjukkan bahwa julukan ini mulai tidak sepenuhnya akurat: curah hujan di Bogor ternyata menurun. Apa penyebabnya? Dan apa dampaknya bagi kota ini?
Julukan Kota Hujan sudah melekat pada Bogor sejak era kolonial Belanda. Para pendatang dari Eropa terkesima dengan iklim Bogor yang sejuk dan sering hujan, bahkan di musim kemarau. Rata-rata curah hujan di Bogor tercatat bisa mencapai 3.500–4.000 mm per tahun, salah satu yang tertinggi di Indonesia.
Julukan ini juga terkait dengan posisi geografis Bogor yang berada di kaki Gunung Salak dan Gunung Gede-Pangrango, membuatnya menerima hembusan angin lembap dari Samudera Hindia yang akhirnya menggumpal menjadi hujan. Bahkan, di masa lalu, masyarakat Bogor sering bercanda bahwa “kalau pagi cerah, siang mendung, sore hujan, malam kilat” — menggambarkan pola cuaca khas di sana.
Namun, menurut data terbaru dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika), curah hujan di Bogor menunjukkan tren penurunan dalam dua dekade terakhir. Penurunan ini tidak hanya terjadi di Bogor, tetapi juga di sejumlah wilayah lain di Indonesia yang sebelumnya dikenal basah.
Beberapa pengamatan menunjukkan rata-rata hujan tahunan di Bogor kini turun ke angka sekitar 2.500–3.000 mm, bergantung pada lokasi. Ini tentu masih tinggi dibanding daerah lain, tetapi secara statistik, penurunan sekitar 500–1.000 mm cukup signifikan jika dilihat secara jangka panjang.
Penurunan ini dipengaruhi oleh perubahan iklim global, di mana suhu permukaan bumi yang meningkat mempengaruhi pola angin, uap air, dan distribusi hujan. Selain itu, perubahan penggunaan lahan seperti deforestasi, urbanisasi, dan berkurangnya daerah resapan air di sekitar Bogor ikut memperburuk situasi.
Penurunan curah hujan membawa dua sisi dampak. Di satu sisi, berkurangnya hujan bisa mengurangi risiko banjir di beberapa wilayah yang sering tergenang, terutama di pusat kota. Namun, di sisi lain, ada kekhawatiran baru muncul: krisis air bersih di masa depan, karena sebagian besar air baku Bogor bergantung pada curah hujan dan aliran sungai dari pegunungan.
Selain itu, ekosistem alami seperti Kebun Raya Bogor, hutan lindung, dan kawasan pertanian di sekitarnya juga ikut terdampak. Banyak tanaman endemik yang bergantung pada kelembapan tinggi bisa terganggu, belum lagi risiko kekeringan saat musim kemarau semakin panjang.
Dari sisi budaya, identitas “Kota Hujan” juga perlahan mengalami pergeseran. Wisatawan yang dulu datang dengan ekspektasi suasana hujan sepanjang hari, kini kadang terkejut mendapati musim-musim di mana Bogor justru kering dan panas.
Pemerintah Kota Bogor telah mulai mengambil sejumlah langkah adaptasi, termasuk meningkatkan kapasitas penampungan air hujan, memperluas ruang terbuka hijau, serta mengendalikan pembangunan liar di daerah resapan air. Selain itu, kampanye kesadaran perubahan iklim mulai diperkenalkan kepada masyarakat agar mereka lebih siap menghadapi perubahan pola cuaca.
Dari sisi masyarakat, kebiasaan-kebiasaan seperti membuang sampah sembarangan yang menyumbat drainase, membangun tanpa izin di pinggir sungai, atau menggunduli pepohonan perlu dihentikan. Jika tidak, masalah kekeringan dan krisis air hanya tinggal menunggu waktu, meskipun dulu Bogor selalu “diberkahi” hujan melimpah.
Meski masih dikenal sebagai Kota Hujan, Bogor kini menghadapi realitas baru: curah hujannya tidak setinggi dulu. Perubahan iklim global, deforestasi, dan urbanisasi menjadi faktor utama di balik penurunan ini. Jika tidak ditangani dengan serius, Bogor bisa kehilangan salah satu identitasnya yang paling terkenal, sekaligus menghadapi risiko lingkungan yang lebih besar.
Mengenali perubahan ini bukan berarti kehilangan harapan, melainkan kesempatan untuk beradaptasi. Dengan kerja sama pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta, Bogor masih bisa menjaga keseimbangan alamnya dan tetap menjadi kota yang nyaman, sejuk, dan lestari.

Komentar
Posting Komentar